Inisiatif Kemandirian Ekonomi Desa dengan Usaha Lestari di Uraso

1
Inisiatif Kemandirian Ekonomi Desa dengan Usaha Lestari di Uraso
Kegiatan pelatihan yang diikuti perempuan di desa Uraso. Foto : SLPP Tokalekaju
Kegiatan pelatihan yang diikuti perempuan di desa Uraso. Foto : SLPP Tokalekaju

Masyarakat Kampung Liku Dengen, Desa Uraso di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan terus memperkuat dirinya dengan berbagai inisiatif kemandirian. Kampung Liku Dengen, berada di Desa Uraso, Kecamatan Mappadeceng, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Warga kampung ini adalah komunitas adat Tabang yang berada di wilayah dataran tinggi. Mereka merintis pertanian alami untuk memastikan keberlanjutan ekonomi setelah menolak perkebunan kelapa sawit dan pupuk kimia, membangun kemandirian ekonomi desa lewat usaha berperspektif lingkungan lestari.

Salah satu upayaya adalah dengan budidaya lebah dan madu. Madu Liku Dengen merupakan produk hasil hutan lestari di Uraso. Potensi lebah dari hutan yang dijaga masyarakat adat secara turun-temurun ini dibudidayakan dengan pendampingan secara regular oleh Perkumpulan Wallacea, LSM yang selama ini menjadi pendamping masyarakat Uraso.

Masyarakat Desa Uraso juga mendapatkan peningkatan kapasitas untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengembangkan usaha mikro, termasuk budidaya lebah madu. Kegiatan ini merupakan dukungan dari The Samdhana Institute melalui Simpul Layanan Pemetaan Partisipatif (SLPP) Tokalekaju tahun 2015 lalu. Selain teknis budidaya lebah madu, juga untuk pengembangan usaha melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Aneka Usaha Liku Dengen Desa Uraso. LKM inilah yang berperan untuk urusan peningkatan kualitas dan pemasaran hasil produk masyarakat, yang berasal dari kelola rakyat.

Warga Uraso juga telah mendapat pelatihan pengemasan dan pemasaran produk. Pelatihan Pengemasan, Label dan Pemasaran Produk Lembaga Keuangan Mikro ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta dalam mengemas, mendesain label dan merencanakan pemasaran produk yang dikelola oleh LKM Aneka Usaha supaya produknya bisa bersaing di luar. Kegiatan yang dilakukan Oktober 2015 lalu ini dibimbing langsung oleh Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Luwu Utara, Bapak Haeruddin. Pelibatan Dinas Koperindag Luwu Utara sedikit banyak telah membuka ruang komunikasi dan diharapkan dapat membantu proses pendaftaran PIRT (Perusahaan Industri Rumah Tangga) dan pengembangan produk-produk LKM yang ada.

Ketua Lembaga Keuangan Mikro Aneka Usaha Liku Dengen, Bapak Akis Nuru mengatakan produk madu trigona dan merica bubuk yang dikembangkan warga setempat akan dikemas dalam berbagai ukuran sesuai kebutuhan pasar. Ia bertekad usaha warga itu bisa memanadirikan Desa Uraso.

Madu dan beberapa usaha Liku Dengen barulah awal dari keberhasilan usaha warga. Pengembangan usaha ini kedepannya, produksi masyarakat Liku Dengen, Kumila, Kampung Baru, dan Salu Tuwu dapat mengantongi legalitas produk dari pemerintah setempat dan memiliki jaminan higienis. Dengan demikian setiap produk masyarakat sudah harus memiliki label dengan kemasan tertentu sehingga siap untuk diterima dan bersaing di pasar.

Serangkaian kegiatan yang telah dirancang dan dilaksanakan SLPP Tokalekaju, Perkumpulan Wallacea bekerjasama dengan Samdhana Institute untuk mendukung masyarakat Desa Uraso, adalah salah satu upaya menyikapi perubahan iklim bagi komunitas lokal. Yaitu dengan memperkuat pengelolaan lahan dengan pertanian alami/organik (tanpa pemakaian pupuk dan pestisida kimia) bagi kelompok petani perempuan, mempersiapkan lembaga ekonomi mikro yang memiliki kepercayaan dalam pengelolaan keuangan dan pengelolaan usaha anggota, meningkatkan dan mengembangkan usaha produktif di masyarakat dengan focus pada aspek petik, olah, dan jual pada produk madu trigona dan merica.

Sumber : diolah dan dikutip dari Laporan Naratif, SLPP Tokalekaju, Oktober 2015. Madu Liku Dengen dan Kemandirian Masyarakat, Mustam Arif, November 2015.

Previous articleMasyarakat Adat, antara Rentan dan Tangguh Bencana
Next articleInisiatif Mendorong Terwujudnya Ruang Kelola Masyarakat di Sumatera
The Samdhana Institute was formed in 2003 by a group of individuals, conservationist, development practitioners, constituting the first Samdhana Fellows: moved by the same commitment of 'giving back' that they know to the next generation;and bringing together skills, knowledge, experiences, networks, colleagues and friends; delivering maturity, strength and sustainability. The Samdhana Institute is a non-profit organization with an office in Indonesia and a Regional base in the Phillippines for Southeast Asia. The Samdhana Institute offers and institutional home and community for those who wish to reduce their time devoted to institutional needs and give more time and energey assisting the next generation of development and conservation practitioners.

  1. Kegiatan yang sangat luar biasa, semoga pelitahan tersebut dapat diperluas hingga daerah-daerah yang terdapat banyak angka pengangguran. Sehingga dengan demikian, akan sangat membantu masyarakat dalam menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri.
    Terimakasih…..

LEAVE A REPLY