Tenun dan Warisan Kehidupan Sui Utik

0
Tenun dan Warisan Kehidupan Sui Utik

Tenun songket khas Dayak Iban. Foto : Annisa Yuniar/GreenIndonesia

Sui Utik, sebuah desa kecil di hulu Sungai Embaloh, salah satu dari empat sungai  anak sungai Kapuas. Lokasi yang termasuk kedalam zona penyangga (buffer zone) Taman Nasional Betung Kerihun di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Ketika desa-desa sekitarnya berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, sub-suku Dayak Iban Sui Utik ini masih mampu mempertahankan keutuhan hutan adat warisan leluhur seluas 9600 hektar lebih itu. Suasananya hutan lebat, dengan lantai hutan yang sejuk, penuh dengan keragaman hayati ekosistem hutan, dan perladangan disertai  air yang jernih. Dari sini, penghuni Sui Utik yang berjumlah 299 jiwa dan mendiami Rumah Betang Sui Utik yang panjang, memenuhi semua kebutuhan hidupnya.

Dalam Bahasa Dayak Iban, Sui berarti sungai. Nama Desa Sui Utik diperoleh dari sungai sebening kristal yang mengalir melalui desa tersebut. Hulu sungai ini berada di kawasan hutan adat sungai utik, untuk menjaga sumber-sumber air masyarakat memberlakukan larangan membuka hutan di sebagian besar wilayahnya. Kawasan larangan ini hanya diijinkan untuk dipakai berburu dan mengumpulkan berbagai hasil hutan non kayu.

Masyarakat Sui Utik berasal dari kelompok etnis Dayak Iban, dan mereka masih mempraktekkan model tata kelola agroforestry khas Kalimantan Barat bernama Tembawang. Tembawang adalah cara mengelola hutan secara adaptif yang kearifannya diajarkan secara turun temurun, yang mencampurkan pola pengelolaan hutan alam dan usaha perladangan.

Tembawang dikenali karena berisi pohon-pohon dari spesies-spesies yang memiliki kemanfaatan yang dapat memberikan pendapatan langsung (cash crops), seperti buah-buahan, getah getahan kayu-kayu yang diperlukan untuk bangunan dan membuat perahu, seperti getah Karet dan Tengkawang.

Para tetua di Sui Utik menceritakan bahwa ketika membuka hutan untuk ladang, mereka selalu berhati-hati dan meninggalkan sejumlah pohon tetap berdiri, inilah nanti yang akan menjadi bibit bagi tumbuhnya hutan kembali. Secara cerdas mereka selalu memastikan untuk tidak membabat habis hutan mereka. Ini terutama dilakukan untuk menjaga air dan keragaman hayati.

Dari Sui Utik, kita bisa belajar bagaimana masyarakat adat Iban di sini bekerjasama dengan alam, mengelola hutan dengan cara yang adaptif dan kolaboratif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Selain itu Sui Utik juga menyimpan warisan tenun karya perempuan Sui Utik.  Kain-kain cantik yang mereka miliki biasanya digunakan sebagai bahan baju adat seperti rompi pada laki-laki dan rok pada perempuan, serta perlengkapan upacara adat seperti sebagai penutup sesaji atapun alas untuk ritual adat. Dulu benang mereka dapatkan  dengan cara barter bahan baku benang dengan hasil hutan pada saudagar yang datang.

GreenIndonesia menangkap antusias menenun perempuan Sui Utik yang tinggi dan memfasilitasi akses agar mendapatkan benang kembali. Hasilnya kelompok perempuan penenun yang semula tersisa 5 orang kini menjadi 26 orang yang mampu memproduksi mandiri aneka selendang-selendang kecil ukuran 10 cm panjang 150 cm dengan beragam motif khas. Menggunakan pewarna alami yang didapatkan dari sekitar hutan dan pekarangan meski belum 100 persen alami. Perwarna alami yang digunakan seperti akar mengkudu dan tanaman indigo.

Selain tenun ikat, di Sui Utik juga terdapat jenis tenun yang lain, yaitu songket. Jenis tenun ini menggunakan benang dari pabrik yang sudah berwarna sehingga menghasilkan lembaran kain dengan warna yang sangat cerah, terutama warna-warna khas seperti merah, kuning, hijau dan biru. Peruntukan kain songket ini biasanya digunakan untuk topi tradisional laki-laki Dayak Iban serta rompi untuk kegiatan upacara adat.

Sumber : diolah dan ditulis dari Laporan Kegiatan Membangun Ekonomi Rumah Lebah di Dua Desa : Sungai Utik Kalbar dan Desa Gukguk Jambi, GreenIndonesia. Januari 2016

Previous articleRegistrasi dan Verifikasi 30 Wilayah Adat di Sulawesi Tengah
Next articleMencari Solusi atas Masalah Hak Ulayat di Propinsi Riau
The Samdhana Institute was formed in 2003 by a group of individuals, conservationist, development practitioners, constituting the first Samdhana Fellows: moved by the same commitment of 'giving back' that they know to the next generation;and bringing together skills, knowledge, experiences, networks, colleagues and friends; delivering maturity, strength and sustainability. The Samdhana Institute is a non-profit organization with an office in Indonesia and a Regional base in the Phillippines for Southeast Asia. The Samdhana Institute offers and institutional home and community for those who wish to reduce their time devoted to institutional needs and give more time and energey assisting the next generation of development and conservation practitioners.

LEAVE A REPLY