Karet dan Penghidupan Desa Gohong

0
Karet dan Penghidupan Desa Gohong

Kelompok tani dan pembibitan karet. Foto : LDP

Desa Gohong dengan luas 51,037 km2 terletak di bagian selatan Kabupaten Pulang Pisau dengan jenis tanah yang didominasi oleh tanah gambut dan tanah alluvial yang juga berasal dari endapan sungai Kahayan. Untuk menuju desa berpenduduk 2.157 jiwa (data 2012) ini memerlukan waktu tempuh 2 jam dari kota Palangkaraya dengan transportasi darat.

Sejak diberhentikannya proyek Mega Rice PLG 1 juta hektar  dan  berkurangnya aktifitas illegal logging karena diberlakukannya peraturan moratorium dan pengawasan dari pihak yang berwenang semakin diperketat, masyarakat desa Gohong kembali pada kegiatan pertanian dan perkebunan rakyat, khususnya karet dan tanaman pangan seperti bertanam padi ladang. Tanaman karet mendominasi kebun-kebun rakyat dan desa ini, diperkirakan ada sekitar 1.500-2.000 hektar kebun karet rakyat yang menjadi sumber penghasilan masyarakat di desa.

Masyarakat menganggap bahwa karet merupakan jalan keluar dari situasi kesulitan ekonomi di desa-desa tersebut. Saat ini tanaman karet menjadi sumber penghidupan 187.889 atau 37 persen kepala keluarga (KK) di Kalimantan Tengah. Dengan luas lahan perkebunan karet mencapai 432.946 Ha, dimana  419.946 Ha  atau  97,00 % merupakan Perkebunan Rakyat. Sisanya merupakan Perkebunan Besar Negara dan Perkebunan Besar Swasta. Hingga tahun 2015 lalu produksi karet kering perkebunan rakyat 229.861 ton (produktivitas 963 Kg / Ha), perkebunan besar negara 9.758 ton (produktivitas 2.631 Kg / Ha), perkebunan besar swasta 279 ton (produktivitas 343 Kg / Ha).

Walaupun secara absolut produksi karet kering Kalimantan Tengah hampir 96 % berasal dari perkebunan karet rakyat, namun dari sisi produktivitas masih begitu rendah, hanya 963 Kg / Ha. Kemiskinan dan rendahnya pengetahuan serta kecakapan masyarakat menyebabkan lahan-lahan yang telah diperuntukkan untuk kebun karet rakyat kurang begitu produktif.

Catatan asesmen Lembaga Dayak Panarung (LDP) tahun 2012 menemukan beberapa masalah seperti harga karet yang bervariasi dan sangat tergantung pada pembeli, kualitas karet masih rendah, keterampilan petani karet dalam teknik penyadapan dan pengolahan karet pasca panen masih terbatas, organisasi lokal yang berorientasi pada usaha kelompok masih belum terbentuk dan menurunnya harga karet.

Tantangan lainnya adalah sebagian besar pemilik lahan perkebunan karet rakyat bermukim di daerah pedalaman Kalimantan Tengah, yang berdampak pada minimnya akses perkembangan informasi dan teknologi budidaya karet, penanganan panen dan pasca panen, pengolahan, pemasaran dan sumber pembiayaan usaha perkebunan karet.

Tantangan terahir yang selama ini dialami adalah kebakaran lahan kebun kareat dan lahan produkif lainnya yang terjadi dimusim kering, terutama pada lahan gambut yang telah diturunkan permukaan airnya oleh usaha pembukaan PLG 1 juta hektar dimasa lalu. Berbagai upaya dilakukan bekerjasama dengan pihak lain dengan menyiapkan sumur bor, agar pembahasan kebn karet dapat dilakukan dimusim kering. Diharapkan pengembangkan kebun kareat wanatani dapat menjaga kelembaban wilayah sekelilingnya.

Pendekatan pengembangan diversifikasi ekonomi yang berkelanjutan melalui pengembangan karet rakyat yang berkualitas disertai dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusianya di desa ini merupakan salah satu pilihan yang tepat. Komoditas karet merupakan komoditas penerimaan masyarakat.

Sejak November tahun 2015 lalu LDP dengan dukungan Samdhana terus mengembangkan dan mendorong peningkatan produksi perkebunan karet rakyat jangka panjang, yaitu dengan melakukan pembibitan karet local (kebun entres). Mengajak masyarakat untuk melakukan corak perkebunan karet yang modern yaitu perkebunan karet yang maju, efisien dan tangguh dengan meningkatkan pada akses benih yang baik dan pola karet wanatani. Fokusnya pada (1) peningkatan produksi dan produktivitas tanaman karet, (2) peningkatan mutu hasil karet dan (3) diversifikasi produk karet guna peningkatan nilai tambah (added value)

Diharapkan dengan adanya pola yang baru yaitu masyarakat beralih kepada modernisasi usaha perkebunan karet ini dengan metode pembibitan dan penanaman sesuai standar yang baik mulai dari penyiapan lahan / pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, penanganan panen dan pasca panen, pengolahan hasil, penampung dan pemasaran hasil, dan memfasilitasi penyediaan pembiayaan usaha. Yaitu adanya demplot pembibitan karet local yang dikelola dengan intensif oleh kelompok tani, peningkatan Mutu hasil karet petani pada saat produksi sesuai Standard Indonesian Rubber (SIR) 20 dengan Kadar Karet Kering (K3) 68 %, berkembangnya kegiatan agribisnis karet beserta jejaring pemasarannya dengan membuka akses pasar bagi kelompok tani, meningkatnya pendapatan dan ekonomi keluarga petani karet di desa Gohong.

Sumber : Ditulis dan diolah dari Laporan Kegiatan “Memperkuat Kelompok Tani Memajukan Sumber Penghidupan Hijau di Desa Gohong  Kabupaten Pulang Pisau”, LDP Kalteng. November 2015

Previous articleMenelaah Posisi dan Peran Perempuan dalam Konflik Agraria Perkebunan Kelapa Sawit di Sulawesi Tengah
Next articleMempersiapkan Kapasitas Pengelola Hutan Desa Sira dan Manggroholo di Papua Barat
The Samdhana Institute was formed in 2003 by a group of individuals, conservationist, development practitioners, constituting the first Samdhana Fellows: moved by the same commitment of 'giving back' that they know to the next generation;and bringing together skills, knowledge, experiences, networks, colleagues and friends; delivering maturity, strength and sustainability. The Samdhana Institute is a non-profit organization with an office in Indonesia and a Regional base in the Phillippines for Southeast Asia. The Samdhana Institute offers and institutional home and community for those who wish to reduce their time devoted to institutional needs and give more time and energey assisting the next generation of development and conservation practitioners.

LEAVE A REPLY