Mama Aleta Raih Yap Thiam Hien Award 2016

0
Mama Aleta Raih Yap Thiam Hien Award 2016

Aleta Baun saat memberikan tenun kampungnya kepada Ketua yayasan Yap Thiam Hien, Todung Mulya Lubis. Foto : Nonette/SAMDHANA

Predikat perempuan pejuang lingkungan yang disandang Aleta Baun kembali mendapat apresiasi, setelah penghargaan Golman Interational Prize ditahun 2013, kini   Yayasan Yap Thiam Hien pada 25 Januari 2017 menetapkan perempuan dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai penerima Yap Thiam Hien Award 2016.

Mama Aleta, sapaan akrab beliau, dinilai telah menginspirasi dan menggerakkan masyarakat di tanah Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT untuk menolak keberadaan perusahaan tambang marmer yang merusak lingkungan.

Pendekatan tanpa kekerasan (non-violence) dengan mengajak puluhan kaum ibu di tiga suku melakukan aksi protes dengan menenun di celah gunung batu yang akan ditambang selama satu tahun, sukses membangkitkan kesadaran warga terhadap kelestarian alamnya dan membuat dua perusahaan tambang, PT So’e Indah Marmer dan PT Karya Asta Alam, berhenti beroperasi.

Karena itu Aleta Baun yang lahir  di Desa Lelobatan, Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 16 April 1963. Dinilai tepat sebagai sosok pejuang yang berhasil membebaskan orang-orang di kampungnya dari rasa takut serbuan eksploitasi lingkungan.

“Dewan juri menetapkan ibu Aleta Baun karena kegigihannya sebagai pejuang lingkungan tanpa rasa takut, dan membangun kesadaran bersama akan pelindungan lingkungan. Aleta adalah simbol keteguhan dari serbuan ketamakkan industrialisasi,” ujar Yosep Adi Prasetyo, ketua dewan juri Yap Thiam Hien Award 2016, saat penganugerahan Yap Thiam Hien award di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (25/1/2017).

Dewan Juri Yap Thiam Hien terdiri dari Makarim Wibisono (diplomat senior), Sandra Hamid (Direktur Asia Foundation), Yosep Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Zumrotin K Susilo (aktivis perempuan dan anak), dan Todung Mulya Lubis (Ketua Yayasan Yap Thiam Hien).

Nama Aleta Baun ditetapkan setelah melewati proses seleksi bersama 22 nama sejak Mei 2016. Setelah beberapa kali seleksi, muncul dua nama yang paling kuat, yakni Sukinah, perempuan pejuang Kendeng dan Mama Aleta.

Dalam acara penganugerahan tersebut Mama Aleta menerima penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Hadir pula Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

Sementara itu ketua yayasan Yap Thiam Hien Todung Mulya Lubis berharap award ini akan memberikan inspirasi bagi Mama Aleta lainnya untuk  terus berada dibaris depan mempertahankan lingkungan hidup. Makna perlawanan ini tak hanya berlaku untuk tanah Mollo saja, tetapi juga di daerah lain di seluruh Indonesia.

Yap Thiam Hien merupakan penghargaan yang sejak 1992 dan diberikan kepada tokoh yang dianggap memperjuangkan hak asasi manusia.

Sumber : ditulis dan diolah dari kompas.com, 25 Januari 2017. Tempo.co, 25 Januari 2017

Previous articleSuweden Homestay, Satu dari 5 Homestay Terbaik di Indonesia
Next articleSaat Pengakuan Hak Wilayah Adat Jadi Kebutuhan di Lembah Baliem
The Samdhana Institute was formed in 2003 by a group of individuals, conservationist, development practitioners, constituting the first Samdhana Fellows: moved by the same commitment of 'giving back' that they know to the next generation;and bringing together skills, knowledge, experiences, networks, colleagues and friends; delivering maturity, strength and sustainability. The Samdhana Institute is a non-profit organization with an office in Indonesia and a Regional base in the Phillippines for Southeast Asia. The Samdhana Institute offers and institutional home and community for those who wish to reduce their time devoted to institutional needs and give more time and energey assisting the next generation of development and conservation practitioners.

LEAVE A REPLY