Homestay Jatiluwih Mendunia

0
Homestay Jatiluwih Mendunia

Pusat informasi Kelompok Ekowisata Suranadi. Foto : suranadi.or.id

Bali mendapatkan dua penghargaan bergengsi pada acara The ASEAN Tourism Forum (ATF) yang diselenggarakan pada tanggal 16-20 Januari 2017 di Singapura. Prestasi membanggakan ini diraih oleh Homestay Suweden sebagai pemenang dalam kategori “ASEAN Homestay Award 2017”, dan Desa Wisata Panglipuran sebagai pemenang dalam kategori “Community Base Tourism 2017”.

Tujuan dari ASEAN Homestay Standard untuk mengembangkan standar komprehensif homestay yang dapat disesuaikan oleh negara-negara ASEAN seperti yang direkomendasikan dalam rencana strategis Pariwisata ASEAN 2011-2015 untuk membuat pengalaman pengunjung berkualitas dengan menampilkan sumber daya pedesaan mereka dengan cara yang rapi, aman dan menarik.

Cakupan standar homestay berfokus pada tamu yang akan tinggal bersama keluarga semang (tuan rumah) dan pengalaman cara hidup keluarga dan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Standar juga berfokus pada kriteria penting seperti tuan rumah, akomodasi, kegiatan, keaslian, manajemen, lokasi, keselamatan dan keamanan, pemasaran dan prinsip keberlanjutan.

Penghargaan ini diberikan kepada Homestay Suweden secara prasyarat telah memenuhi standar dan kriteria homestay ASEAN. Lokasinya berada di wilayah Subak Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan – Bali. Prestasi membanggakan ini akan dicatat sebagai sejarah dalam dunia pariwisata di Indonesia, sekaligus mengukuhkan Bali sebagai pusat wisata alam dan budaya di tanah air setelah ditetapkannya subak sebagai Situs Warisan Budaya Dunia (WBD) oleh UNESCO pada tahun 2012.

Selain Homestay Suweden, ada 4 pemenang lainnya yaitu: Homestay Bunga-Jawa Tengah, Homestay Adiluhung-Yogyakarta, Homestay Suheri-Jawa Tengah dan Homestay Teratai 3-Jawa Barat. Kelimanya diundang ke Singapura sebagai pemenang kategori homestay tingkat nasional.

Penghargaan lain juga diberikan kepada dua pengelola desa wisata lainnya, yaitu Desa Wisata Nglanggeran-Gunung Kidul-Yogjakarta dan Desa Wisata Dieng Kulon-Banjarnegara-Jawa Tengah. Seluruh penghargaan diserahkan langsung oleh Arief Yahya selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tujuan dari penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi untuk pariwisata berkualitas yang langsung melibatkan masyarakat.

ATF merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan secara bergantian oleh negara-negara ASEAN. Tahun ini memasuki edisi 36 sejak inagurasi pertama tahun 1981 di Malaysia. ATF merupakan usaha regional untuk mempromosikan kawasan ASEAN sebagai satu destinasi wisata.

Tema tahun ini adalah “shaping our tourism journey together”, yaitu merefleksikan secara terus menerus upaya kolektif negara-negara ASEAN untuk mempengaruhi dan mengatasi berbagai tantangan dan peluang dalam mengembangkan industri pariwisata di Asia Tenggara. Ajang tahunan ini melibatkan semua sektor industri pariwisata dari 10 negara ASEAN yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Filipina, dan Vietnam ditambah tiga negara di Asia yaitu India, China dan Korea.

Mendorong Pengelolaan Ekowisata Subak

Kemandirian I Gede Suweden sebagai pengelola homestay sudah dimulai sejak tahun 90-an. Tujuan awalnya diperuntukan bagi wisatawan yang ingin menginap di Desa Jatiluwih sambil menikmati kesejukan dan keindahan sawah terasering. Peluang inilah yang dimanfaatkan Suweden karena potensi Subak Jatiluwih dianggap “paling cantik” diantara subak lainnya di kawasan Catur Angga Batukau yang sudah ditetapkan sebagai situs WBD oleh UNESCO.

Sebagai petani subak dan juga penggiat wisata, Suweden memiliki motivasi dan tekad yang kuat untuk memajukan wisata di wilayahnya. Subak dipilih sebagai objek dan daya tarik wisata (ODTW), karena mengandung nilai sosial-ekonomi-religi yang hidup dalam kehidupan masyarakat Bali sejak ratusan tahun. Subak merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Bali yang mengakar sejak jaman dahulu hingga saat ini, wajar jika para ahli mengatakan jika subak hancur maka hancur pula budaya Bali.

Dalam perkembangannya keberadaan homestay terintegrasi dalam pengelolaan ekowisata subak, dalam istilah global disebut subak community base ecotourism yang dikelola secara kolektif melalui Kelompok Ekowisata Surandi yang dibentuk pada akhir tahun 2014. Upaya ini untuk memotivasi dan membuktikan bahwa masyarakat lokal mampu menjadi penggiat wisata professional dengan memanfaatkan potensi dan pengetahuan lokal yang mereka miliki. Selain itu, upaya ini untuk mengurangi laju alih fungsi lahan pertanian yang massive menjadi menjadi hotel, restaurant dan perumahan.

Berjejaring Melalui Situs AirBnB

Sejak tahun lalu, tepatnya Januari 2016 Homestay Suweden sudah terdaftar di Situs AirBnB yaitu sebuah situs online marketplace yang menyediakan akomodasi lokal bagi para turis di seluruh dunia dengan harga yang terjangkau dibandingkan hotel. Tempat yang disewakan bisa berbagai macam bentuk, mulai dari rumah hingga tenda. Saat ini, sudah ada 550.000 tempat menginap yang tersebar di 34.000 wilayah di seluruh dunia yang dipromosikan AirBnB. Para turis, utamanya turis mancanegara memanfaat situs ini untuk mencari tempat menginap yang ideal dan terjangkau.

Kemasyuran Jatiluwih sebagai destinas wisata sudah mendunia, oleh sebab itu banyak turis yang datang ke Bali bukan hanya menikmati keindahan pantai dan hotel mewah tapi juga keramahan masyarakat dan budaya Bali. Berdasarkan data pengunjung, jumlah turis yang sudah menginap di Homestay Suweden hingga November 2016 berjumlah 41 orang. Mereka berasal dari berbagai negara seperti Asia, Eropa dan Amerika. Dengan tarif yang terjangkau Rp. 267.760 (dua ratus enam puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh rupiah), para turis bisa menginap di sekaligus menikmati keindahan alam dan budaya Bali.

Bagi wisatawan yang ingin menikwati keindahan Subak Jatiluwih dan menginap di Homestaya Suweden, dapat mengunjungi situs AirBnB: https://www.airbnb.com/rooms/10718819 atau kontak langsung Bapak Suweden.

Sumber : “Homesaty Jatiluwih Mendunia”. suranadi.or.id, Februari 7, 2017

 

Previous articleInilah Harapan dari Pemetaan Wilayah Adat di Jayawijaya
Next articlePasca HPH, Bagaimana Hutan Biak akan Dikelola?
The Samdhana Institute was formed in 2003 by a group of individuals, conservationist, development practitioners, constituting the first Samdhana Fellows: moved by the same commitment of 'giving back' that they know to the next generation;and bringing together skills, knowledge, experiences, networks, colleagues and friends; delivering maturity, strength and sustainability. The Samdhana Institute is a non-profit organization with an office in Indonesia and a Regional base in the Phillippines for Southeast Asia. The Samdhana Institute offers and institutional home and community for those who wish to reduce their time devoted to institutional needs and give more time and energey assisting the next generation of development and conservation practitioners.

LEAVE A REPLY