Keragaman Jambore Nusantara di Jantung Leuser

Sebagian peserta Jambore Nusantara berfoto bersama sebelum mengikuti prosesi pembukaan. Jambore dilaksanakan di Ketambe, Aceh Tenggara. (SAMDHANA/Anggit)


Oleh Anggit Saranta

Dibuka dengan prosesi adat Peuseujuk, pelaksanaan Jambore Nusantara di Desa Ketambe Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, resmi berlangsung pada hari Selasa 23 Juli 2019. Prosesi yang dipimpin oleh Empat perempuan tokoh pemangku adat itu dimaksudkan untuk memohon keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan selama pelaksanaan Jambore hingga pungkas pada Kamis (25/7/2019) yang kemudian di tutup dengan suguhan tarian Saman yang dilakukan oleh para pemuda Ketambe sengan penuh semangat. Tarian Saman ini mendapatkan penghargaan dari UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.

Selama 3 hari, Jambore Nusantara secara total di hadiri oleh 100 orang pemimpin perempuan, pemuda adat, dan komunitas lokal dari 11 wilayah di Indonesia. Yaitu Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku, NTB, NTT, Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan dari Aceh sendiri sebagai tuan rumah. Desa Ketambe di Kecamatan Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara terpilih sebagai lokasi kegiatan dimana desa ini berlokasi di antara Taman Nasional Gunung Leuser sebagai salah satu Hutan Tropis terbesar di Indonesia atau terbesar kedua dunia setelah hutan Amazon di Brazil dan Hutan Lindung.

H.Bukhari, Wakil Bupati Aceh Tenggara menyambut baik diselenggarakannya Jambore Nusantara di wilayahnya. Menurutnya kegiatan yang diselenggarakan oleh Samdhana Institute dan Sekolah Ekologi Leuser (SEL) ini bisa melahirkan inspirasi praktek cerdas dalam pengelolaan SDM, pertanian berkelanjutan, pangan lokal, produk herbal dan kerajinan tangan yang ramah lingkungan. Juga menumbuhkan semangat kewirausahaan bagi semua peserta di berbagai provinsi.

“Harapan kami akan tumbuh terobosan dan inovasi untuk kearifan lokal. Mari kita manfaatkan untuk bertukar pengalaman dari masing-masing daerah,” jelasnya.

Lebih lanjut Wakil Bupati mengatakan dengan ditetapkannya Gunung Leuser sebagai situs warisan dunia, perlu terus dilakukan komunikasi untuk menyamakan persepsi antara masyarakat, pemerintah daerah dan pusat melalui Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) agar dapat bersama-sama melestarikannya.

Senada dengan wakil Bupati, masyarakat desa Ketambe yang dekat dengan Budaya dan tradisi masyarakat Gayo di provinsi Aceh, merespon positif kehadiran peserta dan panitia Jambore Nusantara 2019 di desanya.

Mewakili warga desa, tokoh adat dan perangkat desa Ketambe, Tarmizi Alba, panitia pelaksana Jambore di Ketambe menyambut dengan rasa syukur atas kehadiran tokoh adat dan perempuan dari Sabang sampai Merauke. Bersyukur atas kesediaan berkumpul untuk membangun sebuah kekuatan bersama, kekuatan konkrit untuk peradaban yang luar biasa melalui Jambore Nusantara.

“Tujuan kita disini sama, yaitu membuka ruang komunikasi dan informasi antara pemerintah dan masyarakat sekitar kawasan hutan untuk optimalisasi pengelolaan kawasan lindung, untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Tarmizi, tokoh muda Aceh Tenggara yang juga founder Sekolah Ekologi Leuser.

Jambore Nusantara adalah ruang perjumpaan untuk saling bertukar pengetahuan, pengalaman dan praktek-praktek terbaik dari masing-masing tempat yang nantinya akan memperkaya pengetahuan dan memperluas jaringan kerjasama antar komunitas. Jambore Nusantara ini menjadi upaya aktualisasi dan kecerdasan komunitas yang berusaha keluar dari permasalahan sosial-ekologinya, serta mampu beradaptasi dan bertahan hidup dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusianya sebagai asset menuju masyarakat madani.

Cristi Nozawa dari Samdhana memberikan apresiasi atas pelaksanaan Jambore Nusantara di Ketambe. Hadirnya kaum muda, tokoh adat dan para orang tua yang berkumpul untuk membagi pengetahuannya dalam satu komunitas tak banyak ditemui. Banyak yang hadir untuk saling berbagi, dari Papua sampai ke Aceh. Ini merupakan kekayaan dan keragaman Indonesia dan ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan sebagai bangsa. Termasuk apresiasinya atas penggunaan bahan baku dari alam untuk beberapa produk di Ketambe.

“Saya senang di Ketambe masih menggunakan sumber dari alam untuk berbagai produk seperti tikar, daripada menggunakan bahan plastik. Karena kita mengumpulkan banyak sekali sumber disini menjadi satu kekuatan, dan ini menjadi cantik sekali,” jelas Cristi.

Jambore hari pertama selain menyampaikan paparan pembukaan, juga menghadirkan cerita para pemimpin tentang gerakan perubahan yang mereka lakukan di wilayahnya. Yaitu Dicky Senda (NTT), Ni Luh Yeni Arianti (Bali), Slamet Diharjo (Banyuwangi), Arifin (Jawa Tengah) dan Agusta Maria Wanggadipa (Papua).

Kemudian dialog publik dengan Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Ir. Wiratno, M.Sc terkait kemitraan konservasi. Kemitraan Konservasi merupakan program Ditjen KSDAE terkait dengan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan konservasi. Sebuah program kerjasama yang mendudukkan masyarakat sebagai pelaku utama untuk mengelola lahan menjadi produktif sekaligus lestari sesuai fungsinya.

“Sekarang saya punya program, untuk bersama membuat kesepakatan kemitraan konservasi. Saya datang ingin bertemu untuk membangun kemitraan konservasi,” terang Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc.

Dalam sesi tanya jawab Wiratno memberi perhatian khusus untuk Ketambe karena terdapat orangutan yang menjadi obyek penelitian. Pesannya adalah intensifikasi wilayah kelola yang ada, bukan ekstensifikasi. Menurutnya cagar alam boleh dikelola secara kolaborasi. “Hutan bukan cuma kayu, kita wajib bertanggung jawab akan alam yang diberi Tuhan karena binatang disana memberikan kita banyak manfaat yang tidak kasat mata bagi kita,” tambahnya.

Jambore Nusantara yang dilaksanakan selama tiga hari itu juga menghadirkan tiga kelas inspirasi. Yaitu kelas kedaulatan, kemandirian dan solidaritas. Kelas yang memberikan bekal untuk menyusun rencana kedepan, rencana yang juga sekaligus cita-cita.

Pada hari terakhir penyelenggaraan jambore, warga dan peserta jambore disuguhi tari saman, tari bines dan aneka pertunjukan budaya dari daerah asal peserta.

Leave a Reply

Next Post

Hutan Adat Pikul Pengajid, Satu dari Sembilan Kelompok Hutan Sosial Pilihan Tempo 2019

Thu Nov 28 , 2019
Domianus Nadu, tokoh masyarakat Hutan Adat Pikul Pengajid saat berbagi cerita mengelola hutan adatnya di PeSoNa, Jakarta, 27 November 2019. (SAMDHANA/Anggit) Satu tahun sejak ditetapkannya kawasan hutan Pikul Pengajid sebagai Hutan Adat oleh Pemerintah Republik Indonesia, melalui Surat keputusan (SK) Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 20 September 2018. Masyarakat Adat […]