Dukungan Kecil Untuk Sekolah Alam Manusak Kupang

Edukasi cuci tangan kepada peserta didik Sekolah Alam Manusak dan sekitarnya di  Kampung Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. (Yayasan RSBI)


Cerita oleh Nurul Hidayah*


Sejak Jum’at, 20 Maret 2020, Yahya Ado terlihat gamang, pendiri Sekolah Alam Manusak di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu begitu mengkhawatirkan situasi dan dampak merebaknya pandemi COVID-19 di wilayahnya. 

Di NTT, sampai dengan Jum’at, 29 Mei 2020, terdapat 91 kasus positif dengan 1 korban meninggal. Setiap hari, terdapat penambahan jumlah kasus baru. Kupang mulai membatasi aktivitas, mengikuti anjuran pemerintah demi memutus rantai penularan COVID-19. Pembatasan aktivitas luar rumah dan keharusan menjauhi kerumunan termasuk sekolah dan ibadah, telah mengakibatkan beberapa konsekuensi sosial dan ekonomi masyarakat. 

Masyarakat mengalami pengurangan pendapatan. Petani mengalami kesulitan karena hasil bumi mereka kurang diminati di pasar, kalaupun ada, harganya mengalami penurunan. Ditambah sebagian petani mengalami gagal panen karena kurangnya curah hujan. Pendeknya, masyarakat yang sebagain besar petani itu memiliki beban ganda untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, hal utama terkait COVID-19, Yahya Ado melihat bagaimana kebiasaan pola hidup bersih masih minim dilakukan masyarakat. Hal sederhana seperti cuci tangan setiap hari tidak dilakukan dengan baik. Apalagi menggunakan masker. 

Seperti di Kampung Manusak di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, tempat komunitas Sekolah Alam Manusak berada. Kampung seluas hampir 2.500 ha itu dihuni oleh 1121 Kepala Keluarga dengan total penduduk sebanyak 5168 jiwa. Kondisi yang tak kalah rentan terjadi penyebaran COVID-19.

Tak mau berdiam diri begitu saja, Yahya Ado merasa perlu bertindak untuk meminimalisir penyebaran dan perlu ada edukasi tentang protokol COVID-19. Misalnya, jaga jarak fisik minimal 1 meter, menggunakan masker, cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta bekerja dan belajar dari rumah. 

Melalui Yayasan RSBI dengan dukungan Samdhana Institute, Yahya Ado dengan bantuan guru dan anggota komunitas Sekolah Alam Manusak melakukan kampanye edukasi dan pembagian hand sanitizer. Sasaran aksi ini ditujukan untuk komunitas dan warga sekitar. Memberikan edukasi kepadakomunitas dan warga Sekolah Alam tentang tata cara pencegahan COVID-19, mulai dari bekerja, belajar dan ibadah dari  rumah.

Memberi anjuran untuk membiasakan menggunakan masker setiap keluar rumah dan mencuci tangan sesering mungkin. Hand sanitizer sebagai salah satu kebutuhan yang harus dibawa saat keluar. Juga tak lupa menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter.

“Ini adalah bantuan darurat pertama yang diterima di desa ini. Terima kasih untuk kemitraan ini. Tuhan beri kemudahan kita berkarya dan berbakti bagi bangsa dan tanah air, dari pelosok Indonesia. Karya kecil dengan cinta yang selalu besar,” ungkap Yahya.  

Selain hand sanitaizer dari Samdhana yang diproduksi oleh Omah Markonah , Bogor  dan masker, ada beberapa hal yang masih perlu mendapatkan perhatian. Yaitu ketahanan pangan dan sumber pendapatan, kebutuhan sanitasi dasar dan kesehatan (Water, sanitation and hygiene /WASH). Termasuk kebutuhan sistem informasi desa yang baik, akurat dan mudah diakses masyarakat.

Ditulis kembali oleh Anggit Saranta. Diambil dari Laporan Yayasan RSBI oleh Yahya Ado dan catatan singkat oleh Nurul Hidayah.

Leave a Reply

Next Post

Bringing Education in the Traditional Market to Stop Spread of COVID-19

Sat Jun 6 , 2020
Narto Hayon and his colleagues kept their distance while distributing hand sanitizers to traders in Alok Market in Madawat Village, Alok District. (PAPHA) Story by Anggit Saranta and Nurul Hidayah* That afternoon on Saturday, March 28, 2020, the sky in Maumere, the capital of Sikka Regency, East Nusa Tenggara (NTT) […]