Asa dari Sikka Nusa Tenggara Timur

Pelatihan Irigasi Tetes yang dilaksanakan PAPHA bersama anak muda di Sikka, NTT. (Courtesy of PAPHA)


Cerita oleh Ita Natalia*


Mengatasi Serangan Demam Berdarah Dengeu dan Mengembalikan Semangat Bertani Kaum Muda

Pada awal 2020 Indonesia dihebohkan oleh penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD) yang menyerang Nusa Tenggara Timur. Lebih 3.000 orang terjangkit, di antaranya 37 orang meninggal dunia.

Penderita DBD tersebar di seluruh kabupaten dan kota dengan terbanyak di Kabupaten Sikka dan Kota Maumere. Tetapi berita tentang kejadian itu kemudian tenggelam oleh merebaknya pandemi Covid-19.

DBD memang penyakit yang hampir setiap tahun menyerang NTT, terutama wilayah perkotaan, seperti Maumere dan Sikka. Penyebab utama adalah kurang baiknya pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal. Sampah plastik berserakan di mana-mana yang memunculkan genangan air pada musim hujan.

Itu adalah persoalan masyarakat perkotaan di NTT. Sedangkan di perdesaan keberlangsungan hasil pertanian terancam oleh iklim yang kurang mendukung. Kesulitan air menjadi salah satu faktor yang menyebabkan petani kehilangan semangat dan anak-anak muda enggan mengikuti jejak mereka.

Kedua kondisi yang terkait dengan perubahan iklim itulah yang menjadi perhatian Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) Kabupaten Sikka. PAPHA membuat dua kegiatan berbeda di dua lokasi yang juga berbeda, perkotaan dan perdesaan.

Di perkotaan, PAPHA menggalang anak muda mengumpulkan sampah secara rutin dan membentuk kelompok perajin yang mengolahnya menjadi kerajinan daur ulang dengan lokasi di Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Di perdesaan, PAPHA mengajak anak muda mencintai pertanian dengan membuat pertanian dengan teknologi irigasi tetes di Dusun Nawute’u, Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari The Ford Foundation melalui Samdhana Institute pada tahun 2020.

Narto Hayon, panggilan akrab Bernardus Lewonama Hayon, bersama rekan-rekannya di PAPHA sejak September 2020 akhirnya berhasil mengajak 40 pemuda Karang Taruna melakukan aksi rutin memungut sampah setiap Jumat dan Sabtu.

“Kegiatan ini kami lakukan di tengah sulitnya mengumpulkan orang dengan protokol Covid-19 yang ketat,” kata Bernardus Lewonama Hayon, direktur PAPHA.

Sampah-sampah tersebut kemudian mereka jual kepada pemuda kelompok kerajinan daur ulang yang dibina oleh PAPHA. Setidaknya ada lima pemuda yang secara aktif terlibat dalam usaha daur ulang sampah plastik. Mereka sudah membuat sofa dari botol plastik bekas minuman kemasan. Sofa tersebut bahkan sudah terjual.

Karena sampah plastik beraneka macam, ke depan mereka berencana akan membuat bantal, paving blok, dan tas dari sampah-sampah tersebut.

Pada mulanya memang sulit mengajak para pemuda kota terlibat, meski melalui Karang Taruna. Sebagian dari mereka ada yang sibuk bekerja. Tapi isu besar penanggulangan DBD mendorong mereka untuk terlibat melakukan sesuatu untuk kepentingan banyak orang.

“Kami berharap dengan diolahnya sampah-sampah plastik menjadi kegiatan bernilai ekonomi kreatif, maka sampah-sampah bisa berkurang di Meumure dan DBD-nya bisa berkurang juga, semacam ada simbiosis atau mata rantai yang saling terkait,” ujarnya.

Kegiatan penanganan sampah tersebut mendapat dukungan dari Kelurahan. Bahkan Bupati Kabupaten Sikka juga berencana berkunjung ke sentra usaha kerajinan daur ulang sampah plastik yang dibina oleh PAPHA.

Sementara itu kegiatan di perdesaan memiliki karakteristik tersendiri. Profesi sebagai petani hampir dianggap sebagai takdir, karena tidak banyak pilihan lain. Menjadi petani di NTT tidak mendatangkan penghasilan yang memadai, karena dalam setahun hanya bisa panen sekali. Karena itu orang yang bertani hanya seperti bertahan dengan kondisinya.

Anak-anak muda juga tidak melirik kegiatan pertanian. Mereka jarang yang bercita-cita menjadi petani. Mereka umumnya ingin menjadi dokter, guru, pastor, perawat, dan lainnya.

Faktor utama tidak majunya pertanian adalah sulitnya mendapatkan air, karena curah hujan yang rendah. Namun sekarang sejumlah bendungan sudah dibikin pemerintah. Bahkan di desa-desa juga banyak dibangun embung penampung air hujan.

Artinya, potensi pertanian ada. Namun untuk meningkatkan potensi itu berhadapan dengan kondisi sumber daya manusia yang terbatas, kemauan belajar yang rendah, kurangnya semangat, dan minimnya inovasi pertanian yang bisa menarik anak-anak untuk terjun ke dunia pertanian.

PAPHA akhirnya masuk dengan kegiatan teknologi pertanian yang memudahkan untuk menarik minat generasi muda terlibat dalam kegiatan pertanian. Kegiatan yang dilakukan adalah budidaya hortikultura dengan teknologi irigasi tetes.

Teknologi irigasi tetas adalah memanfaatkan air dari embung yang sudah ada dengan mengalirkannya menggunakan slang ke lahan pertanian. Dengan cara itu diestimasikan bisa panen minimal tiga kali dalam setahun.

PAPHA memanfaatkan lahan contoh seluas 10 are (1.000 meter persegi). Atas dukungan dari Ford Foundation melalui Samdhana Institute, sejak September 2020 lahan tersebut sudah dipupuk dan siap untuk ditanami. Tinggal menunggu bibit tomat yang sudah disemai, akhir Desember 2020 sudah bisa ditanami. Instalasi air tetes pun sudah terpasang.

Tanaman tomat dipilih karena harganya lebih mahal pada saat musim hujan. Sebab pasokan terbatas.

Melihat sudah ada aktivitas, anak-anak muda usia 14 tahun hingga 21 tahun, lebih banyak perempuan, mulai terlibat dalam kelompok. Terakhir berjumlah 26 anak, mereka membagi jadwal piket di kebun setiap sore.

Mereka sangat aktif sekarang secara berkelompok ikut mengelola di kebun contoh, mereka terlibat dalam semua proses, termasuk nanti menanam dan merawat kebun contohnya.  katanya.

Anak-anak tersebut akan diajak melakukan praktik yang sama di lahan masing-masing.

PAPHA sudah membangun kesepahaman dan komitmen dengan Pemerintahan Desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda dan anak muda di desa untuk menjalankan program tersebut. Bahkan Pemerintah Desa sudah siap mendukung dengan dana desa pada 2021. Sedangkan anak-anak sepakat akan membuat pertanian di lahan masing-masing.

Bahkan beberapa petani yang diajak melihat teknologi pertanian di kebun contoh juga tertarik untuk mengadopsi sistem tersebut.

“Kini sudah ada yang bermimpi menjadi petani, sebab dengan sistem mudah seperti ini, mereka tidak perlu memikul air lagi untuk siram tanaman, buka keran saja jalan,” ujar Narto.

Dukungan dari Pemerintah Desa untuk kegiatan pertanian di desa dan dukungan dari kelurahan dan bupati pada kegiatan penanganan sampah di kota memotivasi anak-anak muda yang terlibat semakin aktif berkegiatan.

*Cerita dari Mitra Samdhana Institute di Kabupaten Sikka NTT yang mendapatkan dukungan penguatan komunitas dari Ford Foundation tahun 2020

Leave a Reply

Next Post

Sekolah Alam Manusak, Dari Sekolah Untuk Anak Usia Dini Menjadi Sekolah Komunitas di Kabupaten Kupang

Tue Dec 29 , 2020
Pembelajaran luar ruang yang diterapkan di Sekolah Alam Manusak, sekolah yang mengedepankan pendekatan komunitas di NTT. (Courtesy of YRSBI) Cerita oleh Ita Natalia* “Kita perlu mencari keunikan dari karakter orang Timur, kita perlu mencari sesuatu yang baru untuk membuat Pendidikan di NTT lebih maju,” kata direktur Yayasan Rumah Solusi Beta […]