Sekolah Alam Manusak, Dari Sekolah Untuk Anak Usia Dini Menjadi Sekolah Komunitas di Kabupaten Kupang

Pembelajaran luar ruang yang diterapkan di Sekolah Alam Manusak, sekolah yang mengedepankan pendekatan komunitas di NTT. (Courtesy of YRSBI)


Cerita oleh Ita Natalia*


“Kita perlu mencari keunikan dari karakter orang Timur, kita perlu mencari sesuatu yang baru untuk membuat Pendidikan di NTT lebih maju,” kata direktur Yayasan Rumah Solusi Beta Indonesia (RSBI).

Yahya Ado mendirikan Sekolah Alam Manusak di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, karena prihatin melihat kondisi pendidikan di Nusa Tenggara Timur yang dari hasil ujian nasional selalu berada di peringkat bawah. Hasil penilaian kualitas pendidikan di NTT secara nasional tersebut, menurutnya bukanlah karena fasilitas dan kualitas orang-orang yang rendah, tetapi cara pendekatan penddikannya yang kurang mencerdaskan.

Bermodal pengalaman 15 tahun bekerja di dunia sosial dengan perhatian kepada isu pendidikan, Yahya ingin menciptakan sebuah sekolah yang membahagiakan anak-anak. Sekolah yang lebih membuat anak-anak peduli terhadap kehidupan dan lingkungannya.

Konsep sekolah alam yang dikembangkan ini tidak jauh berbeda dari sekolah alam yang ada di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun Sekolah Alam Manusak mendapatkan perhatian cukup luas di Provinsi itu karena sekolah alam pertama yang didirikan di NTT.

Sekolah Alam Manusak dimulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan murid 27 anak. Memasuki tahun kedua, mestinya Juli 2020 sudah dibuka untuk jenjang Sekolah Dasar. Namun rencana tersebut ditunda karena kondisi yang tidak mendukung akibat pandemi Covid-19.

Sekolah Alam manusak ini mengusung konsep sekolah yang menyenangkan dan merdeka bagi anak-anak. Anak-anak bisa “enjoy” berada di sekolah, baik ketika belajar maupun bermain.

“Anak tidak hanya punya guru di sekolah, tetapi juga di rumah, yaitu orang tua. Terkadang kita lupa bahwa anak juga punya guru ketiga, yaitu alam di lingkungan di mana ia hidup,” ujarnya.

Karena itu orang tua siswa juga dilibatkan dalam mengajar anak-anak sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki melalui “Gerakan Orang Tua Mengajar”. Misalnya anak-anak dibawa ke rumah orang tua yang berprofesi sebagai petani yang memiliki sapi. Mereka belajar bagaimana mengenal sapi dan bagaimana cara merawat serta memberinya makan.

Sekolah Alam Manusak ini digagas tidak hanya sebagai laboratorium pembelajaran bagi anak-anak yang belajar secara formal, tetapi juga pembelajaran bagi komunitas atau masyarakat di sekitar sekolah.

“Sekolah tidak hanya mencerdaskan otak anak dari aspek kognitif semata, tetapi juga aspek psikososial, motorik, pengembangan empati, kejiwaan, dan karakter mereka, itu bisa dibentuk dari pembelajaran-pembelajaran di alam terbuka,” katanya.

Gagasan tersebut terwujud berkat dukungan dari Ford Foundation melalui Kerjasama dengan Samdhana Institute dan juga Pemerintah Desa. Sekitar 30 anak muda di sekitar sekolah dilibatkan dalam komunitas dengan nama “Komunitas Sekolah Alam Manusak”.

Salah satu yang unik di Sekolah Alam Manusak adalah Konsep Lopo1 . Konsep lopo dijadikan inovasi pembelajaran yang disebut “Lopo bermain, belajar, dan bahagia”.

Dalam konsep tersebut ada lima lopo di mana setiap lopo memiliki aspek pembelajaran berbeda. Komunitas anak-anak muda bisa memilih lopo yang disenanginya untuk terlibat membuat media-media pembelajaran yang sesuai tema lopo.

Lopo pertama adalah pengembangan karakter, seperti moralitas, sosial-budaya, dan agama. Misalnya aspek kerukunan antar umat beragama dan kebersamaan.
Lopo kedua adalah matematika dan lopo ketiga adalah literasi (membaca, menulis, dan berhitung).

Sedangkan Lopo keempat adalah sains (ilmu pengetahuan alam, teknologi, dan komunikasi) dan Lopo kelima adalah seni, tempat membuat media pembelajaran terkait seni musik, tari, kriya, dan lain-lain.

Anak-anak muda komunitas menggunakan bahan lepasan atau barang-barang yang sudah tidak digunakan untuk diolah menjadi bahan pembelajaran sesuai tema lopo. Karena itu ada alat musik, alat peraga belajar matematika, permainan tradisonal, dan lain-lain yang dihasilkan dari barang bekas.

Semua karya anak-anak muda komunitas tersebut digunakan sebagai media pembelajaran bagi murid sekolah alam.

Adanya lopo di lingkungan sekolah juga sekaligus membawa konsep pembelajaran berbasiskan budaya dan karakter lokal. Apalagi ada jadwal menampilkan seni tari dan musik tradisional.

Memanfaatkan barang-barang bekas tidak hanya untuk alat peraga, tetapi digunakan juga untuk bangunan dan alat di sekolah alam. Meja, kursi, dinding sekolah, dan lainnya hampir semuanya dari barang lepasan yang tidak digunakan lagi dan diberikan oleh pemiliknya.

Anak-anak PAUD yang sekolah di Sekolah Alam Manusak pun tidak dipatok untuk membayar uang sekolah. Biasanya mereka membayar dengan bunga atau tanaman. Karena itu halaman sekolah memiliki kebun. Kebun salah satu daya tarik alam di lingkungan sekolah, selain ternak dan kolam ikan.

“Kita beli pun harganya sangat murah karena barang ini adalah barang yang biasanya dibakar dan dibuang saja, tapi di Sekolah Alam Manusak barang ini kita gunakan sebagai bahan yang berguna, bahkan pohon-pohon dan bunga-bunga yang kita tanam juga berkat sumbangan orang,” kata Yahya.

Kehadiran Sekolah Alam Manusak sebagai sekolah komunitas yang melibatkan anak-anak muda ternyata menarik banyak kalangan, tidak hanya pelajar dan mahasiswa, tetapi juga organisasi yang peduli kepada dunia Pendidikan untuk bertandang.

Permintaan kunjungan terus berdatangan, termasuk dari sekolah lain, kunjungan belajar mahasiswa dan pelajar, termasuk paket-paket outbound.

Sekolah Alam Manusak juga sering dijadikan tempat praktik bagi mahasiswa kependikan dari berbagai universitas yang ada di Kota Kupang. Bahkan selama lima tahun dari tahun 2019 lalu, Program Studi Pendidikan Kesehatan Jasmani dan Rekreasi salah satu universitas di Kota Kupang menjadikan Sekolah Alam Manusak sebagai tempat praktik belajar bagi mahasiswanya.

Setiap Jumat sekolah alam mengadakan kegiatan outbound untuk pelajar dari sekolah manapun. Itu semacam hari kebudayaan daerah di mana anak-anak diajarkan tarian dan lagu daerah. Pelajar dari sekolah lain, termasuk SMA, akan ramai berkunjung untuk mengikuti kegiatan di sini.

Semua kalangan bisa menikmati sekolah komunitas sebagai tempat mereka belajar, juga mencari inspirasi, dan lain-lain, jadi tidak hanya dilihat sebagai sekolah formal bagi anak-anak.

Saat Pandemi Covid-19 sekarang ini kami akan tolak permintaan untuk datang ke Sekolah Alam Manusak jika daerah Kota Kupang dan Kabupaten sekitarnya sedang waspada zona merah” kata Yahya.

Bagi Yahya dukungan Ford Foundation dan Samdhana sangat berdampak pada kemajuan sekolah dan kegiatannya. Pemerintah desa juga memberikan dorongan yang luar biasa.

Ke depan, RSBI akan terus berinovasi dan berencana mengembangkan “Wisata Minat Khusus” di lokasi sekolah ini dengan membuat paket-paket belajar yang terbuka untuk umum. Setidaknya ada paket belajar musik, menari, teater, atau menulis. Juga paket cerita dongeng yang menghadirkan orang-orang tua yang mewarisi dongeng turun-temurun.

Tantangan terberat saat ini adalah menghadapi situasi pandemi Covid-19, karena pengurangan kerumunan dan menjaga jarak sosial memberikan restriksi khusus kepada kegiatan-kegiatan bersama yang direncanakan.

*Cerita dari Mitra Samdhana Institute di Kabupaten Kupang NTT yang mendapatkan dukungan penguatan komunitas dari Ford Foundation tahun 2020

1Lopo adalah rumah adat NTT berbentuk bulat.

Leave a Reply

Next Post

Tanah Adat di Papua Perlu Pengakuan

Thu Feb 4 , 2021
Penyerahan peta, data sosial dokumen perencanaan pengolaan wilayah adat di Kabupaten Jayawijaya disaksikan Wakil Menteri ATR/BPN. (Yunus Yumte) Reforma Agraria  adalah kebijakan yang bertujuan untuk memberikan pemerataan kesejahteraan masyarakat melalui penataan kembali asset dan akses kepemilikan dan pengelolaan tanah. Dalam penjabarannya, berbeda dengan wilayah lain di Indonesia, Papua memiliki ciri […]