Dari Papua untuk Nusantara: Noken

5

Menoken di Tabi sepenuhnya dikelola dan dimiliki bersama-sama oleh berbagai komunitas penoken, termasuk di antaranya: Samdhana Institute, Jungle Chef Papua, Klub Pecinta Alam KIPAS, Forum Tour Guide Papua, FOKKER LSM Papua, Komunitas Tuli Jayapura, dan berbagai komunitas dan organisasi lain di Jayapura.


Catatan oleh **Mathius Awoitauw dan *Ambrosius Ruwindrijarto


Pada sekitar 10 tahun yang lalu ada semboyan yang cukup populer, yaitu “dari Jogja untuk Indonesia”.  Yang dimaksudkan sebagai sumbangan dari Yogyakarta itu adalah nilai-nilai toleransi dalam keberagaman. Semboyan ini tentu bermuasal pada sejarah panjang kontribusi Yogyakarta, kraton dan rakyatnya, terhadap perjuangan kemerdekaan dan pergerakan nasional Indonesia (lihat misalnya tulisan Aloysius B. Kurniawan, Thomas Pudjo Widijanto, dan Ilham Khoiri pada tahun 2013 berjudul “Dari Yogyakarta untuk Indonesia” di nasional.kompas.com). Kota Yogyakarta sendiri meneguhkan diri sebagai “Kota Toleran” pada tahun 2003. Terakhir, di tahun 2017 Anno Susabun menulis di Kumparan.com dengan harapan bahwa “Dari Yogyakarta, niscaya kita bisa membangun Indonesia yang toleran terhadap pluralisme identitas” (“Toleransi Dalam Keberagaman: Dari Yogyakarta Untuk Indonesia” yang diunduh pada tanggal 4 Februari 2021 dari www.kumparan.com).

Kini, sebagaimana orang Jogja suka mendengungkan “dari Jogja untuk Indonesia” itu, yaitu nilai-nilai toleransi dalam keberagaman dan kebhinekaan, maka orang Papua saatnya mendengungkan:

“dari Papua untuk Nusantara”

Sumbangan dari Papua itu adalah Noken, baik Noken sebagai karya berupa tas rajutan multifungsi berbahan alam yang dibuat dan digunakan setiap saat oleh masyarakat adat di berbagai penjuru Tanah Papua sejak zaman dahulu kala, maupun terutama adalah seperangkat nilai di dalam Filosofi Noken. Inilah yang akan menjadi sumbangan dari Papua yang paling penting, berharga, dan relevan dengan tantangan akhir-akhir ini di seluruh nusantara.

Sumbangan ini bukan sumbangan benda yang nampak dan bisa dihitung akan tetapi bahkan lebih berharga dan diperlukan dibanding sumbangan lain berupa benda-benda yang nampak dan bisa dihitung dari Papua untuk Indonesia selama ini. Sumbangan berupa nilai-nilai noken ini lebih berharga daripada emas dan tembaga di Pegunungan Jayawijaya, lebih berharga dari hutan-hutan terakhir dengan berbagai sumberdaya dan fungsi penjaga iklim dunia, bahkan juga akan lebih berharga daripada misalnya beras dan bahan pangan kalau rencana food estate jadi dibuat dan berhasil di Papua.      

Filosofi Noken

Nilai-nilai Noken itu secara singkat adalah kasih kerahiman, rajutan solidaritas, kekuatan dalam kelenturan, keberdayagunaan, keterbukaan, dan pemelihara ruang kehidupan.

Seluruh nilai itulah noken. Dan, meskipun suku-suku yang berbeda di Papua memiliki model dan nama masing-masing untuk benda dan filosofi itu, semuanya adalah noken, yang melekat sangat erat, menjadi benda sentral dan filosofi dasar semua orang, masyarakat adat di seluruh Tanah Papua.

Bahkan dunia telah mengakui noken sebagai warisan dunia sejak tahun 2012. Dalam situsnya (https://ich.unesco.org/en/USL/noken-multifunctional-knotted-or-woven-bag-handcraft-of-the-people-of-papua-00619) dinyatakan bahwa “selain dari fungsi sehari-hari, Noken memiliki fungsi sosial, budaya dan ekonomi. Noken adalah identitas sosial komunitas adat di Papua; Noken menyatukan komunitas-komunitas adat di Papua. Noken adalah simbol persatuan bagi lebih dari 250 kelompok etnis di Papua” (terjemahan bebas dari Bahasa Inggris oleh penulis). Nyatalah bahwa Filosofi Noken ini merangkum dengan rapi seutuhnya jati diri Masyarakat Adat Papua.

Dalam Filosofi Noken tersebut yang terbesar di antaranya adalah Kasih. Karena Noken adalah rahim yang memelihara, melindungi, dan memberi nutrisi, gizi dan cinta, untuk melahirkan dan merawat kehidupan. Noken yang adalah rajutan itu menjalin dan menghubungkan, bersolidaritas. Dalam memancarkan kasih kerahiman dan merajut persaudaraan itu kualitas yang paling utama adalah kelenturan. Tetapi justru itulah sebab noken menjadi kuat. Simpul dalam rajutan noken bukan simpul mati, tapi simpul fleksibel dimana titik tekanan setiap utas dengan sendirinya akan berada pada titik yang paling sesuai dengan beban dan bentuk menurut isi dan guna noken tersebut. Itulah nilai kekuatan dalam kelenturan. Noken juga berarti keberdayagunaan, multi fungsi. Noken bisa menampung dan menjaga apapun di dalamnya: keladi, bayi, pinang, binatang peliharaan atau buruan, handphone, buku, apapun itu. Noken sebagai tas, sebagai selimut, sebagai penutup, sebagai pengikat, sebagai alat pertahanan diri, dan banyak lagi fungsi. Karakter berikutnya adalah transparan. Ini berarti keterbukaan, kejujuran, dan penerimaan. Ini berarti pula pengetahuan dan pembelajaran. Noken dengan demikian adalah kekayaan, jati diri, dan pemelihara ruang kehidupan itu sendiri. 

Gerakan Menoken

Bukankah seluruh Filosofi Noken itu yang saat ini paling diperlukan dan dirindukan untuk hadir dalam kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi di rangkaian pulau-pulau di garis khatulistiwa ini? Bahkan di seluruh dunia yang sedang mengalami pandemi, perubahan iklim, terkoyak-koyak oleh polarisasi atas nama agama, ras, kelas, dan kepentingan politik, ekonomi.

Inilah zaman dimana Indonesia, bahkan dunia, perlu meletakkan nilai-nilai kerahiman, solidaritas, kelenturan, keberdayagunaan, keterbukaan, dan pemeliharaan kehidupan supaya mendasari berbagai upaya, kebijakan dan tindakan sehari-hari, untuk keluar dari multi-krisis.

Bulan ini adalah momentum yang tepat sekali bagi Indonesia, bahkan dunia, untuk membuka diri dan menerima sumbangan paling berharga dari Papua pada khususnya, dan masyarakat adat nusantara pada umumnya yang akan merayakan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara, 17 Maret 2021.

Jadi, sebagaimana orang Jogja pada dekade lalu menggaungkan toleransi dalam keberagaman sebagai sumbangan untuk Indonesia, Papua hari ini menyumbangkan Filosofi Noken untuk nusantara, bahkan dunia. Papua hari ini mengajak semua bangsa, komunitas, warga untuk menoken. Menoken sebagaimana orang Papua menghayati dan melakukannya dari generasi ke generasi. Inilah Gerakan Menoken yang dalam kerahiman yang lentur sekaligus kuat, dengan keterbukaan, pada orientasi memelihara kehidupan kemudian merawat dan mengembangkan tindakan yang menyambungkan satu dengan yang lain, komunitas satu dengan komunitas lain, dalam rajutan ekonomi, budaya, pengetahuan, gagasan, semangat dan solidaritas.


**Mathius Awoitauw adalah Bupati Jayapura, Papua

*Ambrosius Ruwindrijarto adalah warga Jogja

Leave a Reply

Next Post

Menoken di Tabi: Dari Papua Untuk Nusantara

Wed Mar 24 , 2021
Peserta kegiatan Menoken di Tabi berfoto bersama sebelum melanjutkan perjalanan ke 5 kampung di Kabupaten Jayapura. Selama keliling mereka menggunakan foodtruck yang menjadi pusat edukasi pangan lokal bersama Chef Charles Toto. (SAMDHANA/Niken) Cerita oleh Yessi Agustina Kegiatan Menoken Tabi yang merupakan kegiatan inisiatif dari Samdhana Institute di selenggarakan di Tabi, Kabupaten […]